Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Bahasa dan Sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2016

Cara Menggunakan Huruf Kapital dalam Bahasa Indenesia

  Tidak ada komentar
Oktober 16, 2016

Pengertian Huruf Kapital
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring terdapat pengertian huruf, yakni tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan anggota abjad yang melambangkan bunyi bahasa; aksara

Sedangkan kapital adalah huruf yang berukuran dan berbentuk khusus (lebih besar daripada huruf biasa), biasanya digunakan sebagai huruf pertama dari kata pertama dalam kalimat, huruf pertama nama diri dan sebagainya, seperti A, B, H; huruf besar;

Jadi, dapat disimpulkan huruf kapital ialah tanda aksara dalam tata tulis yang berukuran dan berbentuk khusus (lebih besar daripada huruf biasa), atau yang biasa disebut dengan huruf besar.

Cara Menggunakan Huruf Kapital dalam Bahasa Indenesia
1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.
Misalnya:
Apa maksudnya?
Dia membaca buku.
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.

2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan.
Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Halim Perdanakusumah
Wage Rudolf Supratman
Jenderal Kancil
Dewa Pedang
Alessandro Volta
André-Marie Ampère
Mujair
Rudolf Diesel
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

Catatan:
(1) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang merupakan nama jenis atau
satuan ukuran.
Misalnya:
ikan mujair
mesin diesel
5 ampere
10 volt

(2) Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata yang bermakna ‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf pertama kata tugas.
Misalnya:
Abdul Rahman bin Zaini
Siti Fatimah binti Salim
Indani boru Sitanggang
Charles Adriaan van Ophuijsen
Ayam Jantan dari Timur
Mutiara dari Selatan

3. Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”
“Mereka berhasil meraih medali emas,” katanya.
“Besok pagi,” kata dia, “mereka akan berangkat.”

4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Islam Alquran
Kristen Alkitab
Hindu Weda
Allah
Tuhan
Allah akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.
Ya, Tuhan, bimbinglah hamba-Mu ke jalan yang Engkau beri rahmat.

5. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.
Misalnya:
Sultan Hasanuddin
Mahaputra Yamin
Haji Agus Salim
Imam Hambali
Nabi Ibrahim
Raden Ajeng Kartini
Doktor Mohammad Hatta
Agung Permana, Sarjana Hukum
Irwansyah, Magister Humaniora

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang dipakai sebagai sapaan.
Misalnya:
Selamat datang, Yang Mulia.
Semoga berbahagia, Sultan.
Terima kasih, Kiai.
Selamat pagi, Dokter.
Silakan duduk, Prof.
Mohon izin, Jenderal.

6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Proklamator Republik Indonesia (Soekarno-Hatta)
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Gubernur Papua Barat

7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
bangsa Indonesia
suku Dani
bahasa Bali

Catatan:
Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan tidak ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
kejawa-jawaan

8. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari besar atau hari raya.
Misalnya:
tahun Hijriah tarikh Masehi
bulan Agustus bulan Maulid
hari Jumat hari Galungan
hari Lebaran hari Natal

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah.
Misalnya:
Konferensi Asia Afrika
Perang Dunia II
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Catatan:
Huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
Jakarta Asia Tenggara
Pulau Miangas Amerika Serikat
Bukit Barisan Jawa Barat
Dataran Tinggi Dieng Danau Toba
Jalan Sulawesi Gunung Semeru
Ngarai Sianok Jazirah Arab
Selat Lombok Lembah Baliem
Sungai Musi Pegunungan Himalaya
Teluk Benggala Tanjung Harapan
Terusan Suez Kecamatan Cicadas
Gang Kelinci Kelurahan Rawamangun

Catatan:
(1) Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
berlayar ke teluk
mandi di sungai
menyeberangi selat
berenang di danau

(2) Huruf pertama nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
jeruk bali (Citrus maxima)
kacang bogor (Voandzeia subterranea)
nangka belanda (Anona muricata)
petai cina (Leucaena glauca)

Nama yang disertai nama geografi dan merupakan nama jenis dapat dikontraskan atau disejajarkan dengan nama jenis lain dalam kelompoknya.
Misalnya:
Kita mengenal berbagai macam gula, seperti gula jawa, gula pasir, gula tebu, gula aren, dan gula
anggur.
Kunci inggris, kunci tolak, dan kunci ring mempunyai fungsi yang berbeda.

Contoh berikut bukan nama jenis.
Dia mengoleksi batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Solo, batik Yogyakarta, dan batik Madura.
Selain film Hongkong, juga akan diputar film India, film Korea, dan film Jepang.
Murid-murid sekolah dasar itu menampilkan tarian Sumatra Selatan, tarian Kalimantan Timur, dan
tarian Sulawesi Selatan.

10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk.
Misalnya:
Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Lainnya
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Tulisan itu dimuat dalam majalah Bahasa dan Sastra.
Dia agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyajikan makalah “Penerapan Asas-Asas Hukum Perdata”.

12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, atau sapaan.
Misalnya:
S.H.         sarjana hukum
S.K.M.    sarjana kesehatan masyarakat
S.S.         sarjana sastra
M.A.       master of arts
M.Hum.  magister humaniora
M.Si.      magister sains
K.H.       kiai haji
Hj.          hajah
Mgr.       monseigneur
Pdt.        pendeta
Dg.        daeng
Dt.         datuk
R.A.      raden ayu
St.         sutan
Tb.        tubagus
Dr.        doktor
Prof.      profesor
Tn.        tuan
Ny.        nyonya
Sdr.       saudara

13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
“Kapan Bapak berangkat?” tanya Hasan.
Dendi bertanya, “Itu apa, Bu?”
“Silakan duduk, Dik!” kata orang itu.
Surat Saudara telah kami terima dengan baik.
“Hai, Kutu Buku, sedang membaca apa?”
“Bu, saya sudah melaporkan hal ini kepada Bapak.”

Catatan:
(1) Istilah kekerabatan berikut bukan merupakan pe nyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

(2) Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?

Sumber:
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Edisi Keempat Tahun 2016
oleh: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Read More

Rabu, 05 Oktober 2016

Macam-Macam Kata Ganti dalam Bahasa Indonesia

  Tidak ada komentar
Oktober 05, 2016

Pengertian Kata Ganti
Kata ganti disebut juga pronomina. Kata ganti atau pronomina yaitu kata ganti yang digunakan untuk menggantikan kata benda atau yang dibendakan.

Macam-Macam Kata Ganti
Kata ganti dalam bahasa Indonesia ada tiga macam.

1. Kata Ganti Orang
Kata ganti orang dipakai untuk menggantikan nama orang atau kata-kata kekerabatan. Misalnya: ibu, ayah, saya, kakak, paman, atau kakek. Kata ganti orang dibedakan menjadi tiga, yaitu kata ganti orang pertama digunakan untuk mengganti diri sendiri, kata ganti orang kedua digunakan untuk mengganti orang yang diajak bicara, dan kata ganti orang ketiga digunakan untuk mengganti orang yang dibicarakan.

Berikut ini adalah bagian-bagian kata ganti orang
a. Kata ganti orang pertama:
  • Kata ganti orang pertama tunggal: saya, aku, ku-, -ku.
  • Kata ganti orang pertama jamak: kami, kita
b. Kata ganti orang kedua:
  • Kata ganti orang kedua tunggal: engkau, kamu, anda, dikau, kau-, -mu.
  • Kata ganti orang kedua jamak: kalian, kamu sekalian, anda.
c. Kata ganti orang ketiga:
  • Kata ganti orang ketiga tunggal: ia, dia, beliau, -nya.
  • Kata ganti orang ketiga jamak: mereka.

2. Kata Ganti Penunjuk
Kata ganti penunjuk dalam bahasa Indonesia seperti berikut.
a. Kata ganti penunjuk umum, yaitu ini dan itu.
  • Kata ganti ini mengganti benda yang dekat dengan pembicara, pada masa yang akan datang, atau pada informasi yang disampaikan. Contoh: Anak ini cerdas sekali.
  • Kata itu mengganti benda yang agak jauh dari pembicara, pada masa lampau, atau pada informasi yang sudah disampaikan. Contoh: Rumah itu kemarin ditawar dengan harga tinggi.
b. Kata ganti penunjuk tempat, yaitu sini, situ, atau sana.
  • Kata sini untuk mengganti tempat yang dekat. Contoh: Di sini aku menunggunya.
  • Kata situ untuk mengganti tempat yang agak jauh. Dalam bahasa lisan tidak baku, kata situ digunakan sebagai kata ganti orang kedua yang sepadan dengan engkau atau kamu. Contoh: Letakkan meja itu di situ saja.
  • Kata sana untuk tempat yang agak jauh. Contoh: pergilah ke sana agar kau dapat bertemu dengannya.
c. Kata ganti penunjuk hal yaitu: begini, dan begitu.
  • Kata begini untuk menunjuk hal yang dekat. Contoh: Begini pasti lebih baik.
  • Kata begitu untuk menunjuk hal yang jauh. Contoh: Dia melakukan hal begitu agar semua orang terkenang padanya.

3. Kata Ganti Penanya
Kata ganti penanya adalah kata yang digunakan sebagai pemarkah atau tanda pertanyaan. Kata penanya tersebut siapa, apa, dan mana.
a. Kata tanya siapa untuk menanyakan orang. Contoh: Siapa yang menjemputmu pulang?
b. Kata tanya apa untuk menanyakan barang. Contoh: Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?
c. Kata tanya mana untuk menanyakan pilihan tentang orang atau barang. Contoh: Mana yang ingin kamu pilih?

Referensi:
Buku PG Bahasa Indonesia Kelas 8.

Read More

Selasa, 04 Oktober 2016

Pengertian Dongeng dan Jenis-Jenisnya

  Tidak ada komentar
Oktober 04, 2016

Pengertian Dongeng
Menurut Danandjaja, dongeng adalah cerita pendek kolektif kesustraan lisan. Dongeng merupakan cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, meskipun banyak pula yang melukiskan kebenaran, ajaran moral, ataupun sindiran.

Kebanyakan orang menganggap bahwa dongeng sebagai cerita mengenai peri. Kenyataannya, banyak dongeng yang tidak menceritakan kehidupan para peri, melainkan isi cerita atau plotnya mengenai sesuatu yang wajar. Dongeng dapat berupa cerita peri, cerita kanak-kanak, atau cerita ajaib.

Jenis-Jenis Dongeng
Antti Aarne dan Stith Thompson membagi jenis dongeng ke dalam empat golongan besar, yakni:
a. dongeng binatang (animal tales)
b. dongeng biasa (ordinary folktales)
c. lelucon dan anekdot (jokes and anecdotes)
d. dongeng berumus (formula tales)

Dongeng binatang merupakan dongeng yang ditokohi binatang peliharaan dan binatang liar. Binatang-binatang itu dalam cerita jenis ini dapat berbicara dan berakal budi seperti manusia. Binatang-binatang itu biasanya terbatas pada jenis tertentu.

Dongeng biasa adalah jenis dongeng yang ditokohi manusia dan biasanya adalah kisah suka-duka seseorang.

Lelucon dan anekdot merupakan dongeng-dongeng yang dapat menimbulkan rasa menggelikan hati, sehingga menimbulkan tawa bagi yang mendengar maupun yang menceritakan.

Dongeng merumus merupakan dongeng yang strukturnya terdiri atas pengulangan-pengulangan. Subbentuk dari dongeng berumus adalah: dongeng bertimbun banyak, dongeng untuk mempermainkan orang, dan dongeng yang tidak mempunyai akhir.

Read More

Senin, 03 Oktober 2016

Pengertian Prosa dan Jenis-Jenisnya

  Tidak ada komentar
Oktober 03, 2016

Pengertian Prosa
Prosa adalah salah satu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya.

Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.

Prosa juga dibagi dalam dua bagian, yaitu prosa lama dan prosa baru. Prosa lama adalah prosa bahasa Indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat, sedangkan prosa baru adalah karangan bebas yang terkontaminasi budaya Barat serta tidak terikat oleh aturan-aturan apa pun.

Jenis -Jenis Prosa
Jenis prosa Indonesia dapat dikelompokkan sebagai berikut.
  1. Prosa Naratif yaitu karangan berisi penceritaan suatu peristiwa atau kejadian dengan tujuan pembaca seolah-olah mengalami kejadian yang diceritakan dalam karangan. 
  2. Prosa Deskriptif yaitu karangan berisi penggambaran suatu objek secara detail sehingga pembaca seolah-olah melihat dan merasakan sendiri objek yang digambarkan dalam karangan. 
  3. Prosa Eksposisi yaitu karangan yang memaparkan sejumlah pengetahuan atau informasi sejelas-jelasnya agar pembaca memahami isi pengetahuan atau informasi dengan benar.
  4. Prosa Argumentasi yaitu karangan berisi ide atau gagasan yang dilengkapi data-data kesaksian yang bertujuan memengaruhi pembaca untuk menyatakan persetujuannya terhadap gagasan dalam karangan.

Pembagian Prosa
Prosa Lama
Cerita rakyat tergolong ke dalam prosa lama. Cerita rakyat merupakan sastra lisan yang berkembang di masyarakat, terutama pada masa lalu. Cerita rakyat adalah cerita yang pada dasarnya disampaikan oleh seseorang kepada orang lain melalui penuturan lisan, yakni penciptaan, penyebaran, dan pewarisannya dilakukan secara lisan melalui tutur kata dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat pendukungnya secara turun–temurun dari satu generasi ke generasi.

Jenis cerita rakyat antara lain mite/mitos, legenda, dan dongeng.
  1. Mite atau mitos bersal dari bahasa Yunani mythos yang berarti cerita yakni cerita tentang dewa-dewa dan pahlawan-pahlawan yang dipuja-puja. Mitos adalah cerita tentang dewa-dewa suci yang mendukung sistem kepercayaan atau agama (religi).
  2. Legenda adalah cerita yang mengisahkan asal-usul satu tempat atau peristiwa zaman silam. Menurut Sudjiman (1986: 29) legenda adalah cerita rakyat tentang tokoh, peristiwa, atau tempat tertentu yang mencampurkan fakta historis dan mitos.
  3. Dongeng menurut Sudjiman (1986: 15) adalah cerita tentang makhluk khayalis. Makhluk khayali yang menjadi tokoh-tokoh cerita semacam itu biasanya ditampilkan sebagai tokoh yang memiliki kebijaksanaan untuk mengatur masalah manusia dengan segala macam cara.
Prosa Baru
Yang termasuk ke dalam prosa baru antara lain:
  1. Cerita pendek. Cerita pendek atau sering disingkat cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Berapa ukuran panjang atau pendek yang dimaksud memang tidak ada aturan baku yang dianut maupun disepakati diantara pengarang dan para ahli sastra.
  2. Novel. Novel sebenarnya merupakan salah satu jenis fiksi. Novel dan cerita pendek merupakan dua bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi. Bahkan dalam perkembangannya yang kemudian, novel dianggap bersinonim dengan fiksi.

Sumber:
Syarif, Elina, dkk. 2016. Modul Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jakarta: Direktorat Jenderal Guru Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan

Read More

Langkah-langkah Menulis Cerpen yang Sistematis

  Tidak ada komentar
Oktober 03, 2016

Cerpen merupakan karangan prosa yang bertumpu pada satu kisah atau kejadian. Cerita dalam cerpen tidak melebar ke mana-mana namun tetap konsiten pada satu topik, satu tokoh, atau satu konflik tertentu. Sehingga cerpen terkesan pendek, tidak sampai mengabiskan pululah halaman. Bahkan cerpen dikatakan dapat selesai dibaca satu kali duduk.

Demikian pula dalam menulis cerpen sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang cukup lama. Cerpen dapat ditulis dalam satu kali duduk juga. Itu artinya, jika hanya sekedar menulis saja, mungkin cukup satu atau dua jam, bahkan lebih cepat dari itu. Namun, dalam hal mencari ide dan lainnya, kadang butuh waktu berhari-hari. Bahkan ada pula melakukan riset terlebih dahulu.

Nah, berikut ini adalah langkah-langkah dalam membuat atau menulis cerpern secara sistematis. Langkah-langkah ini sangat diperlukan untuk membuat cerpen yang matang dan berkualitas.

Langkah-langkah Menulis Cerpen
1. Memilih tema/topik:
Tema/topik apa pun yang ada di masyarakat dapat dijadikan bahan baku cerpen, misalnya: pendidikan, sosial, lingkungan, olah raga, jurnalistik, peristiwa sejarah, dan Iain-Iain.

2. Menentukan tokoh-tokoh dan mendeskripsikan watak tokoh: 
Tokoh dalam cerpen berfungsi sebagai alat penyampai masalah yang akan dikemukakan pengarang. Untuk itu tentukan tokoh yang akan berperan dalam cerpen Anda. Ada kalanya nama tokoh dipilih untuk menggambarkan watak tokoh tersebut. Untuk itu, selain memilih nama tokoh sekaligus Anda dapat menentukan watak tokoh tersebut, misalnya: Topan (berwatak semau gue, suka bergaya, sombong), Dinda (berwatak lembut, baik hati), Prabu (berwibawa dan suka menolong).

3. Merumuskan garis besar cerita:
Sebelum menuangkan ide ke dalam bentuk tulis, langkah efektif agar kita (pengarang) mempunyai pijakan cerita ialah merumuskan garis besar cerita. Misalnya: Cerita ini bermula ketika .... Tokoh mempunyai persoalan/mengalami peristiwa…. Lalu ia ... sementara itu tokoh ... Persoalan di antara keduanya mencapai puncaknya ketika…, dan seterusnya.

4. Menentukan alur cerita: 
Dalam karya sastra dikenal ada tiga macam alur cerita yaitu alur progresif (alur maju), alur regresif (alur mundur), dan alur campuran. Karya sastra dikatakan menggunakan alur maju apabila peristiwa dalam cerita tersebut disajikan secara runtut dari awal cerita sampai akhir penyelesaian. Dikatakan menggunakan alur mundur apabila peristiwa yang disampaikan dalam cerita dimulai dari peristiwa saat ini lalu menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu. Sementara disebut alur campuran apabila pengarang dalam menyajikan cerita menggunakan alur maju dan alur mundur sekaligus.

5. Menentukan latar cerita: 
Latar (setting) cerita terdiri atas tiga jenis, yaitu: latar tempat, latar waktu, dan latar peristiwa. Misalnya saja cerita yang akan Anda sampaikan tersebut terjadi di suatu tempat (misalnya: di Yogyakarta, pasar malam, kantor guru), pada suatu waktu (tahun, bulan, hari, sebelum matahari terbit, petang, dan lain-lain), dan pada suasana tertentu.

6. Memilih gaya penceritaan: 
Ada beberapa pilihan yang dapat digunakan untuk menceritakan suatu peristiwa. Kita dapat memilih gaya penceritaan secara langsung atau secara tidak langsung. Apabila penceritaan secara langsung menjadi pilihan kita, maka kita bisa menggunakan sudut pAndang aku-an, artinya kita (pengarang) seolah-olah mengalami sendiri peristiwa dalam cerita.

7. Memilih diksi: 
Diksi atau pilihan kata harus disesuaikan dengan tema cerita dan kepada siapa cerita itu ditujukan. Hal itu dimaksudkan agar cerita yang akan disampaikan terasa akrab dengan kehidupan pembaca sehingga mudah dipahami. Jika berlatih menulis cerpen menggunakan tema kehidupan remaja, Pengarang dapat memilih kata (diksi) menggunakan bahasa pergaulan dan istilah-istilah yang sering dipergunakan sehari-hari di kalangan remaja. Terkadang akan muncul kalimat seperti, “Doi tuh ngertiin gue banget!”

8. Membuat kerangka karangan dan mengembangkannya:
Kini kita sampai tahap akhir dalam menulis cerpen yaitu membuat kerangka karangan. Yang dimaksud kerangka karangan dalam pokok bahasan ini ialah skema urutan cerita atau peristiwa yang akan dikembangkan menjadi cerpen. Tentu saja kerangka karangan harus disesuaikan dengan alur cerita yang telah ditetapkan.

Read More

Kamis, 29 September 2016

Makna Imbuhan -man, -wan, -wati, -is, dan -isme

  Tidak ada komentar
September 29, 2016

Perhatikan kalimat berikut!
Ilmuan Albert Einstein, selain terkenal jenius, ternyata juga sangat cerdas dalam bermain biola dan matematika.

Kata ilmuan dibentuk dari kata ilmu + -wan

Dalam bahasa Indonesia imbuhan -man, -wan, -wati berasal dari bahasa Sansekerta. Ketiga imbuhan tersebut berfungsi membentuk kata benda.

Makna imbuhan -man sebagai berikut.
1. Mentakan makna 'orang yang ahli dalam hal seperti tersebut pada bentuk dasar'.
2. Menyatakan makna 'orang yang memiliki sifat yang dibentuk pada bentuk dasar'.

Makna imbuhan -wan dan -wati sebagai berikut.
1. Menyatakan makna 'orang yang ahli dalam suatu bidang yang disebut pada bentuk dasarnya'.
2. Menyatakan makna 'orang yang memiliki sifat yang disebut pada bentuk dasar'.
3. Menyatakan makna 'orang yang pencahariannya dalam bidang tertentu'.

Perhatikan kalimat berikut!
Partai yang beliau dirikan bercorak sosialisme.

imbuhan -is dan -isme dalam kalimat di atas merupakan akhiran serapan asing penanda kata benda (nomina).
1. Imbuhan -is menyatakan orang.
Contoh:
kolumnis yaitu 'orang yang menulis rubrik tententu atau khusus di surat kabar atau median cetak'.

2. Imbuhan -isme menyatakan hal lain atau paham (aliran).
Contoh:
humanisme yaitu 'paham kemanusiaan'.

Read More

Selasa, 27 September 2016

Menggunakan Kata Asing dan Kata Serapan

  Tidak ada komentar
September 27, 2016

Bahasa Indonesia menyerap unsur dari beberapa bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing; misalnya dari bahasa Sansekerta,Arab, Portugis, Belanda, ataupun Inggris.

Unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua golongan besar seperti berkut ini.

1. Unsur serapan yang belum sepenuhnya masuk ke dalam kosakata bahasa Indonesia. Pengucapannya pun masih mengikuti cara asing.
Contoh:
real estate, reshuffle, shuttle cock

2. Unsur serapan yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Contoh:
patien menjadi pasien
ie tetap ie jika lafalnya bukan i
machine menjadi mesin

Selain dua kriteria tersebut, unsur serapan bahasa Indonesia diperoleh dengan cara seperti berikut ini.
1. Konsonan ganda menjadi tunggal kecuali jika terdapat pasangan yang dapat menimbulkan kekeliruan makna.
Contoh:
a. accu mejadi aki
b. commission menjad komisi
c. mass menjadi massa

Kata massa memunya dua konsonan ganda karena jika kata massa konsonan s dibuang satu maka akan mempunya arti berbeda. Kata massa berarti sekelompok orang atau benda. Sebaliknya, kata masa berarti waktu.

2. Unsur serapan yang sudah lazim dieja sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia tidak perlu lagi diubah.
Contoh:
iklan, otonomi, dongkrak, dan paham.

3. Unsur serapan yang mengandung huruf q dan x dieja sesuai dengan ejaan   bahasa Indonesia.
Contoh:
taxi menjadi taksi
executive menjadi eksekutif

Perhatikan bahwa huruf q dan x tetap dipertahankan dalam bahasa aslinya dalam pemakaian tertentu, misalnya dalam pebedaan nama dan istilah khusus.
Contoh:
xenophobia tetap xenophobia (ketakutan atau kebencian kepada orang asing atau apa pun yang asing).


Dikutip dari buku PG Bahasa Indonesia Kelas 9


Read More

Jumat, 23 September 2016

Tentang Sajak dan Puisi

  Tidak ada komentar
September 23, 2016


Pengertian Sajak
Pada KBBI versi online, ditemukan pengertian sajak sebagai berikut.

Sajak adalah:
  1. Gubahan sastra yang berbentuk puisi; 
  2. Bentuk karya sastra yang penyajiannya dilakukan dalam baris-baris yang teratur dan terikat; 
  3. Gubahan karya sastra yang sangat mementingkan keselarasan bunyi bahasa, baik kesepadanan bunyi, kekontrasan, maupun kesamaan
Pengertian Puisi
Kemudian masih menurut KBBI versi online, ditemukan pula pengertian puisi.

Puisi adalah:
  1. Ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait;
  2. Gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus;
  3. Sajak;
Dari pengertian sajak dan puisi di atas, sekilas tidak ada perbedaan, sebab terdapat pertukaran istilah di sana. Pada salah satu pengertian sajak, sudah jelas sajak adalah gubahan sastra yang berbentuk puisi. Sementara pada salah satu pengertian puisi juga disebutkan bahwa puisi adalah sajak. Tukar tempat dong ya! Jadi, jika berlandaskan pengertian tadi, sinonimkah kedua istilah tersebut? 

Menurut Rahmat Djoko Pradopo, penggunaan kata sajak dan puisi pada kesustraan Indonesia sering dicampuradukkan. Misalnya sajak Chairil Anwar disebut juga puisi Chairil Anwar; sajak "Aku" disebut juga puisi "Aku". Mengapa demikian?

Hal tersebut menurut Pradopo, dikarenakan masuknya istilah puisi dari bahasa asing ke dalam sastra Indonesia. Istilah puisi sendiri berasal dari bahasa Belanda yaitu poezie. Kemudian dalam bahasa Belanda terdapat istilah lain dari puisi yaitu gedicht yang berarti sajak. Namun istilah 
gedicht tidak diadopsi ke dalam bahasa Indonesia.

Dalam bahasa Indonesia (Melayu) dahulu hanya dikenal satu istilah sajak yang berarti poezie ataupun gedicht. Poezie (puisi) adalah jenis sastra (genre) yang berpasangan dengan istilah prosa. Gedicht adalah individu karya sastra, dalam bahasa Indonesia sajak, misalnya sajak "Aku". Jadi dalam bahasa Indonesia hanya ada istilah sajak, baik untuk puisi maupun poezie maupun gedicht.

Sementara dalam bahasa Inggris terdapat istilah poetry sebagai jenis sastra; puisi, dan poem sebagai individunya. Oleh karena itu, menurut Pradopo, istilah puisi itu sebaiknya dipergunakan sebaga jenis sastra: poetry, sedangkan sajak untuk individu puisi: poem.

Nah, dari penjelasan terakhir tadi bisa ditarik kesimpulan bahwa (menurut admin), puisi itu sifatnya lebih umum dan luas, sementara sajak lebih kecil atau sempit. Kalau diibaratkan sastra itu sebuah pohon, maka puisi adalah cabangnya, lalu sajak merupakan ranting-rantingnya. 

Read More